YANGKO
Makanan khas daerah Kotagede ini terbuat
dari bahan beras ketan, daging kelapa muda, dan gula. Yangko
merupakan makanan ringan yang rasanya manis dan sangat tepat dijadikan
oleh-oleh atau buah tangan. Makanan ini mudah ditemukan di daerah
Kotagede bagian selatan kota Yogyakarta. Menurut sumber setempat yangko
mulai diproduksi di Kotagede sejak tahun 1920-an. Proses pembuatan
yangko tidak terlalu rumit. Hanya saja dibutuhkan ketekunan, ketelitian,
dan keterampilan. Yangko memiliki kekhasan rasa. Kecuali rasa manis
yang dominan, di dalam yangko Anda juga bisa merasakan wangi aromanya.
Bentuknya yang kecil menyebabkan kita tidak cepat ketika menyantapnya.
Nuansa kenyil-kenyil ketika Anda mengunyahkan mengundang sensasi
kenikmatan tersendiri.
Yangko yang telah dikemas dalam dus bisa
bertahan beberapa hari bukan karena diberi pengawet, namun karena
proses pemasakannya yang matang. Rasa yangko yang klasik adalah yangko
rasa kacang. Sedangkan yangko yang beraroma baru misalnya yangko rasa
durian, nangka, strawberry, cokelat, pandan, dan anggur.
Jika Anda berada di Yogyakarta rugi rasanya jika belum mencicipi sensasi rasa manis legit dan kenyil-kenyil dari yangko ini!
Jika Anda berada di Yogyakarta rugi rasanya jika belum mencicipi sensasi rasa manis legit dan kenyil-kenyil dari yangko ini!

KUE KEMBANG WARU
Kue kembang waru merupakan nama sebuah
kue tradisional yang banyak diproduksi Kotagede Yogyakarta. Kembang waru
dibuat dengan komposisi telur, tepung terigu dan margarin/minyak beku.
Proses pembuatannya adalah telur dikocok sampai kaku kemudian tepung
terigu dimasukkan sedikit demi sedikit sambil terus diaduk. Setelah
tercampur rata dicetak dalam cetakan yang berbentuk bunga yang
sebelumnya sudah dioles mentega terlebih dahulu lalu di “oven
tradisional” sampai matang berwarna kuning kecoklatan, rasanya manis dan
teksturnya lembut. Bentuknya yang seperti bunga pohon waru membuat roti
ini dinamakan dengan nama yang cantik yaitu kue kembang waru.
Pembuatan roti ini bermula dari
keberadaan bangsa Belanda dan Inggris yang hadir di Jogjakarta pada saat
kolonial lalu.. Mereka sering mengkonsumsi cake saat itu dan penduduk
pribumi tidak bisa mencicipinya, sehinngga orang pribumi membuat cake
yang proses pembuatannya sedikit mengadopsi teknik dan resep mereka
sehingga jadillah kue kembang waru ini. Pada saat itu kembang waru
adalah makanan mewah yang hanya hadir di meja-meja keluarga Belanda atau
Inggris, keluarga golongan kaya, dan di pesta-pesta pernikahan karena
keberadaan kue yang masih langka dan harga bahan-bahannya yang mahal.
Seiring berjalannya waktu, keberadaanya kue ini semakin langka karena
kian menipisnya penikmat kue yang padahal sangat enak ini. Walaupun
masih ada, tapi tidak dijual di warung, kios apalagi di supermarket.
Nah! Jika Anda ingin
menikmati kue Kembang Waru ini, ke Kotagede lah Anda bisa menjumpainya.
Rasanya legit dan manis hasil kreasi leluhur yang diadaptasi dari
pengaruh Eropa di masa kolonial!

JADAH TEMPE (burger ala Kaliurang)
Jadah Tempe banyak terdapat di obyek
wisata Kaliurang dan menjadi ikon makanan khas daerah ini. Jadah tempe
terdiri dari dua makanan, yakni jadah dan tempe. Jadah terbuat dari
ketan yang dikukus dengan diberi santan kelapa, sebagai rangkaiannya
adalah tempe bacem. Tempe merupakan penganan terbuat dari kedelai pada
umumnya disajikan dengan cara dibacem yaitu dikukus dengan air kelapa
yang dibumbui gula jawa. Rasa jadah yang sangat gurih dan liat (tidak
keras) digigit dan dikunyah bersamaan dengan tempe bacem yang manis
sangat lezat rasanya. Akan lebih sensasional disantap dengan cabe rawit!
Sangat pas di lidah.
Makanan jadah tempe ini telah mulai
menjamur sekitar tahun 1950-an. Namun yang popular adalah jadah tempe
Mbah Carik. Nama Mbah Carik ini merupakan pemberian oleh Kasultanan
Yogyakarta. Kala itu, puluhan pedagang jadah tempe menjajakan
dagangannya di areal parkir Tlogo Putri, salah satu kawasan wisata di
Kaliurang dan tidak ada namanya. Salah satu penjualnya ialah seorang
wanita paruh baya yang bernama Mbah Sastrodinomo. Ketika Sri Sultan HB
IX berkunjung ke Kaliurang, beliau langsung suka dengan makanan ini
apalagi setelah mencicipinya di warung Mbah Sastrodinomo ini.
Sekembalinya ke Kraton Yogyakarta, Sultan mengutus salah seorang abdi
dalem untuk kembali ke Kaliurang untuk menemui penjual jadah tempe
tersebut dan memberikan nama atau label warungnya supaya mudah diingat
ketika sewaktu-waktu beliau menginginkan jadah tempe. Seorang abdi dalem
pun mengusulkan agar warung milik Mbah Sastrodinomo diberikan nama Mbah
Carik, karena kebetulan suami Mbah Sastrodinomo saat itu menjabat
sebagai seorang Carik Pakem. Sejak saat itulah nama Mbah Carik dipakai
Mbah Sastrodinomo sebagai nama warungnya hingga saat ini.
Kunci cita rasa jadah tempe Mbah Carik
terletak pada tempe bacem yang disuguhkannya. Dengan resep turun
temurun, Mbah Carik mampu menyuguhkan jadah tempe yang membuat
ketagihan. Tempe sengaja dibacem sejak sore hingga pagi hari kemudian
baru digoreng sehingga baceman tempe bisa meresap sedalam-dalamnya.
Kemudian dalam 1 kg ketan dicampurkan dengan 2 buah kelapa, sehingga
gurihnya juga bercampur dengan aroma. Selain jadah tempe mbah carik ini
masih banyak penjaja jadah tempe di Kaliurang ini yang rasanya juga
tidak kalah nikmat.
Cara memakan jadah tempe ini agar terasa
lebih nikmat adalah dengan menumpuk jadah dan tempe lalu dimakan
dengan dibarengi cabe rawitnya. Rasakan sensasi cita rasa makanan Jawa
yang satu ini! Manis, gurih, pedas menjadi satu!
Jika berkunjung ke Merapi, Kaliurang khususnya, kurang afdol jika Anda tidak mampir mencicipi jadah tempe ini!





















