Minggu, 02 Maret 2014

YANGKO
Makanan khas daerah Kotagede ini terbuat dari bahan beras ketan, daging kelapa  muda, dan gula. Yangko  merupakan makanan ringan yang rasanya manis dan sangat tepat dijadikan oleh-oleh atau buah tangan. Makanan ini mudah ditemukan di daerah Kotagede bagian selatan kota Yogyakarta. Menurut sumber setempat yangko mulai diproduksi di Kotagede sejak tahun 1920-an. Proses pembuatan yangko tidak terlalu rumit. Hanya saja dibutuhkan ketekunan, ketelitian, dan keterampilan. Yangko memiliki kekhasan rasa. Kecuali rasa manis yang dominan, di dalam yangko Anda juga bisa merasakan wangi aromanya. Bentuknya yang kecil menyebabkan kita tidak cepat ketika menyantapnya. Nuansa kenyil-kenyil ketika Anda mengunyahkan mengundang sensasi kenikmatan tersendiri.
Yangko yang telah dikemas dalam dus bisa bertahan beberapa hari bukan karena diberi pengawet, namun karena proses pemasakannya yang matang. Rasa yangko yang klasik adalah yangko rasa kacang. Sedangkan yangko yang beraroma baru misalnya yangko rasa durian, nangka, strawberry, cokelat, pandan, dan anggur.

Jika Anda berada di Yogyakarta rugi rasanya jika belum mencicipi sensasi rasa manis legit dan kenyil-kenyil  dari yangko ini!
KUE KEMBANG WARU
Kue kembang waru merupakan nama sebuah kue tradisional yang banyak diproduksi Kotagede Yogyakarta. Kembang waru dibuat dengan komposisi telur, tepung terigu dan margarin/minyak beku. Proses pembuatannya adalah telur dikocok sampai kaku kemudian tepung terigu dimasukkan sedikit demi sedikit sambil terus diaduk. Setelah tercampur rata dicetak dalam cetakan yang berbentuk bunga yang sebelumnya sudah dioles mentega terlebih dahulu lalu di “oven tradisional” sampai matang berwarna kuning kecoklatan, rasanya manis dan teksturnya lembut. Bentuknya yang seperti bunga pohon waru membuat roti ini dinamakan dengan nama yang cantik yaitu kue kembang waru.
Pembuatan roti ini bermula dari keberadaan bangsa Belanda dan Inggris yang hadir di Jogjakarta pada saat kolonial lalu.. Mereka sering mengkonsumsi cake saat itu dan penduduk pribumi tidak bisa mencicipinya, sehinngga orang pribumi membuat cake yang proses pembuatannya sedikit mengadopsi teknik dan resep mereka sehingga jadillah kue kembang waru ini. Pada saat itu kembang waru adalah makanan mewah yang hanya hadir di meja-meja keluarga Belanda atau Inggris, keluarga golongan kaya, dan di pesta-pesta pernikahan karena keberadaan kue yang masih langka dan harga bahan-bahannya yang mahal. Seiring berjalannya waktu, keberadaanya kue ini semakin langka karena kian menipisnya penikmat kue yang padahal sangat enak ini. Walaupun masih ada, tapi tidak dijual di warung, kios apalagi di supermarket.
Nah! Jika Anda ingin menikmati kue Kembang Waru ini, ke Kotagede lah Anda bisa menjumpainya. Rasanya legit dan manis hasil kreasi leluhur yang diadaptasi dari pengaruh Eropa di masa kolonial!

JADAH TEMPE (burger ala Kaliurang)
Jadah Tempe banyak terdapat di obyek wisata Kaliurang dan menjadi ikon makanan khas daerah ini. Jadah tempe terdiri dari dua makanan, yakni jadah dan tempe. Jadah terbuat dari ketan yang dikukus dengan diberi santan kelapa, sebagai rangkaiannya adalah tempe bacem. Tempe merupakan penganan terbuat dari kedelai pada umumnya disajikan dengan cara dibacem yaitu dikukus dengan air kelapa yang dibumbui gula jawa. Rasa jadah yang sangat gurih dan liat (tidak keras) digigit dan dikunyah bersamaan dengan tempe bacem yang manis sangat lezat rasanya. Akan lebih sensasional disantap dengan cabe rawit! Sangat pas di lidah.
Makanan jadah tempe ini telah mulai menjamur sekitar tahun 1950-an. Namun yang popular adalah jadah tempe Mbah Carik.  Nama Mbah Carik ini merupakan pemberian oleh Kasultanan Yogyakarta. Kala itu, puluhan pedagang jadah tempe menjajakan dagangannya di areal parkir Tlogo Putri, salah satu kawasan wisata di Kaliurang dan tidak ada namanya. Salah satu penjualnya ialah seorang wanita paruh baya yang bernama Mbah Sastrodinomo. Ketika Sri Sultan HB IX berkunjung ke Kaliurang, beliau langsung suka dengan makanan ini apalagi setelah mencicipinya di warung Mbah Sastrodinomo ini. Sekembalinya ke Kraton Yogyakarta, Sultan mengutus salah seorang abdi dalem untuk kembali ke Kaliurang untuk menemui penjual jadah tempe tersebut dan memberikan nama atau label warungnya supaya mudah diingat ketika sewaktu-waktu beliau menginginkan jadah tempe. Seorang abdi dalem pun mengusulkan agar warung milik Mbah Sastrodinomo diberikan nama Mbah Carik, karena kebetulan suami Mbah Sastrodinomo saat itu menjabat sebagai seorang Carik Pakem. Sejak saat itulah nama Mbah Carik dipakai Mbah Sastrodinomo sebagai nama warungnya hingga saat ini.
Kunci cita rasa jadah tempe Mbah Carik terletak pada tempe bacem yang disuguhkannya. Dengan resep turun temurun, Mbah Carik mampu menyuguhkan jadah tempe yang membuat ketagihan. Tempe sengaja dibacem sejak sore hingga pagi hari kemudian baru digoreng sehingga baceman tempe bisa meresap sedalam-dalamnya. Kemudian dalam 1 kg ketan dicampurkan dengan 2 buah kelapa, sehingga gurihnya juga bercampur dengan aroma.  Selain jadah tempe mbah carik ini masih banyak penjaja jadah tempe di Kaliurang ini yang rasanya juga tidak kalah nikmat.
Cara memakan jadah tempe ini agar terasa lebih nikmat adalah dengan menumpuk jadah dan tempe lalu dimakan  dengan dibarengi cabe rawitnya. Rasakan sensasi cita rasa makanan Jawa yang satu ini! Manis, gurih, pedas menjadi satu!
Jika berkunjung ke Merapi, Kaliurang khususnya, kurang afdol jika Anda tidak mampir mencicipi jadah tempe ini!
KIPO
Kipo merupakan makanan khas Kotagede yang terbuat dari beras ketan, berisi enten-enten atau parutan kelapa dicampur dengan gula jawa. Bentuknya bulat lonjong kecil-kecil dengan penyajiannya selalu ditaruh di atas daun pisang. Rasanya manis, gurih dan lezat. Warnanya yang kehijauan bukan dari zat pewarna, tetapi alami dari daun pandan. Nama kipo sendiri berasal ari singkatan “iki opo’ yang berarti “ini apa”. Yang memberi nama sekaligus pembuat pertama makanan ini adalah Bu Djito yang berdomisili di Kotagede. Tahun 1960-an beliau membuat makanan untuk dijual di warungnya. Saat itu makanan ini belum ada namanya. Ketika banyak pembeli melihat makanan unik ini kemudian mereka bertanya “Iki Opo?’ Selanjutnya Bu Djito memberi nama makanan buatannya itu dengan nama Kipo.
Larisnya kipo buatan Bu Djito membuat banyak warga Kotagede juga membuat makanan yang sama dan menjualnya di sekitar Pasar Kotagede. Meskipun lezat, sayangnya kipo ini tidak tahan lama. Oleh karena itu, tidak mudah didapatkan di toko-toko pusat oleh-oleh. Tempat yang selalu menjual makanan asli Kotagede ini adalah kios snack dan oleh-oleh di Taman Sari, di pasar-pasar tradisional, serta di kios snack pasar Kotagede sendiri tentunya.

Jika sedang di Jogja, jangan lupa mampir ke Kotagede untuk mencicipi si mungil hijau manis kipo!

GEPLAK
Geplak adalah makanan khas Bantul, Yogyakarta. Makanan ini rasanya sangat manis, terbuat dari kelapa muda yang diparut kemudian dicampur dengan gula selanjutnya disangrai. Bentuknya ada yang bulat-bulat ada juga lonjong tidak beraturan. Waktu memasak yang lama membuat makanan ini menjadi awet dan tahan lama meski tanpa bahan pengawet.
Asal mula geplak tidak terlepas dari peran kota Bantul di masa lalu. Pada masa kolonial Belanda ini banyak lahan di Bantul dijadikan  perkebunan tebu. Tanah pertanian banyak yang ditanami pohon tebu. Pabrik gula pun banyak didirikan di sana. Ada sekitar 6 pabrik gula yang ada di Bantul saat itu, namun hingga kini tinggal satu saja yang masih beroperasi yaitu pabrik gula Madukismo yang pada awal Republik Indonesia ini berdiri merupakan salah satu pabrik gula terbesar di Asia Tenggara. Selain itu didukung letak geografis Bantul yang berada di daerah pantai sehingga terdapat banyak pohon kelapa.
Akhirnya muncul geplak yang bahan utamanya adalah kelapa muda yang campur dengan gula. Pada awalnya, geplak hanya ada dua warna, yaitu jika menggunakan gula pasir warna geplak akan putih dan jika menggunakan gula jawa maka warnanya akan coklat. Namun sekarang telah banyak variasi warna antara lain, merah, kuning, coklat, hijau, merah, dan putih. Pada saat ini rasa geplak pun tidak hanya sekedar gurih dan manis saja namun sudah bervariasi, seperti rasa durian, stroberi, coklat, dll. Geplak mudah diperoleh di  pusat  kota Bantul, pusat oleh-oleh di kota Jogja, terminal, dan di pasar-pasar.

Datang ke Jogja? Cicipilah makanan asli Jogja dengan cita rasa gurih dan manis ini!

Makanan Khas Yogyakarta

Jogjakarta yang merupakan kota tua  mewariskan banyak sekali peninggalan baik yang berwujud benda seperti bangunan candi, istana, masjid dsb maupun  adat istiadat yang hingga kini  masih bertahan keberadaaannya. Pun dengan kuliner, banyak warisan para leluhur yang hingga kini masih bisa kita jumpai di pasar-pasar, toko-toko makanan dan pusat oleh-oleh. Interaksi dengan dengan daerah-daerah di Indonesia maupun negara asing seperti India, China, Eropa serta Asia Barat menambah cita rasa dan variasi makanan di Jogja. Pengaruh dari luar tersebut menambah variasi kuliner khas Jogja. Makanan-makanan tersebut banyak yang masih mudah didapatkan bahkan menjadi makanan yang seringkali diburu para turis terutama turis domestik sebagai oleh-oleh untuk mereka bawa pulang. Namun ada juga makanan yang hanya bisa didapat di daerah-daerah tertentu di Jogja. Berikut beberapa makanan yang tentunya sangat menarik untuk selalu dinikmati.
BAKPIA
Bakpia Pathok adalah makanan khas Jogja yang bahan dasarnya adalah tepung, kacang hijau dan gula. Rasa manis dan legit tercipta dari isi kacang hijau yang berpadu dengan gula. Sedangkan rasa gurihnya berasal dari kulit bakpia yang merupakan adonan tepung yang dicampur dengan minyak nabati yang dipanggang. Anda akan  dapat dengan mudah mendapatkannya di sepanjang jalan Pathok, sekarang bernama Jl. KS. Tubun.
Makanan ini tidak sepenuhnya asli Jogja namun pengaruh dari China. Di China namanya Tou Lu Pia (berasal dari dialek Hokkian) yang berarti kue berisi daging. Namun bakpia yang di Jogja ini telah beradaptasi rasa dengan  lidah lokal dengan isinya bukan daging tetapi kacang hijau. Jenis kue ini awalnya dibawa oleh Goe Gee Oe dari China pada tahun 1948, yang mencoba membuat bakpia sebagai industri rumahan dan dijajakan eceran dari rumah ke rumah. Pengemasannya hanya menggunakan besek, yaitu  tempat makanan yang terbuat dari bambu tipis yang dirangkai atau dianyam sedemikian rupa sehingga berbentuk kotak bujur sangkar. Produksi bakpia ini semakin berkembang seiring waktu hingga sekitar tahun 1980 muncullah produsen-produsen bakpia di kawasan Pathok dengan membuat toko di rumah-rumah produsennya. Kemasannya juga telah menggunajan dos (kertas karton). Merek dagangnya berupa nomor rumah pembuatnya hingga kini makanan ini dikenal dengan Bakpia Pathok. Rasa dari Bakpia Pathok ini sendiri adalah paduan antara manis, legit, dan gurih. Saat ini pilihan  rasa yang bisa dipilih antara lain, coklat, keju atau pun yang asli yaitu rasa kacang hijau. Bakpia ini pun sekarang bisa dijum
pai tidak hanya di wilayah Pathok tetapi di toko-toko oleh-oleh, stasiun, terminal,  bahkan di pasar-pasar tradisional. Namun tentu saja rasanya akan lebih mantab di tempat awalnya, yaitu di Pathok.

Bakpia Pathok ini sangat cocok sebagai oleh-oleh keluarga, teman, atau pun kolega karena selain awet tentu saja lezat rasanya!

Kuliner Jalanan Khas Yogyakarta [Oseng-oseng Mercon]

Oseng-oseng Mercon
Oseng-oseng Mercon
Bagi penggemar pedas, kuliner jalanan khas Yogyakarta ini tidak boleh dilewatkan. Tumis tetelan sapi yang lezat dimasak dengan cabai rawit hingga menimbulkan aroma kuat. Seporsi nasi panas dan oseng-oseng mercon dijual dengan harga 13.000 rupiah. Oseng-oseng ini dijual oleh beberapa warung di sepanjang Jl. KH A.Dahlan. Untuk yang paling enak dan asli menurut saya adalah oseng-oseng mercon Bu Narti yang berlokasi di depan gule kepala ikan Mas Agus (sebelah kiri jalan masuk ke SMA Muhammadiyah Lima)

Kuliner Jalanan Khas Yogyakarta

Gudeg Jogja

Gudeg Basah
Gudeg Basah
Gudeg merupakan makanan khas paling terkenal di Yogyakarta. Sebagian besar dari gudeg disediakan untuk makan malam dengan jam buka mulai pukul 09.00 ketika toko toko tutup. Kenapa? karena gudeg-gudeg yang cukup ramai dijual di trotoar di depan pertokoan atau lokasi-lokasi pusat keramaian.
Gudeg yang dijual pada malam hari adalah gudeg basah. Gudeg ini berkuah dan tidak tahan lama, tidak seperti gudeg kering/kendil yang dijual sepanjang hari. Gudeg yang dijual di malam hari cenderung tidak terlalu manis dan harganya pun lebih murah.
Beberapa lokasi gudeg basah favorit saya adalah:
  • Gudeg Permata, Jalan Kusumanegara Yogyakarta
  • Gudeg Mbak Sasha, Depan Mirota Gejayan, Jalan Affandi Yogyakarta
  • Gudeg Pawon, Jl. Dr.Soepomo/Janturan (Gudeg ini unik, mereka menjual gudeg ini di dapur mereka langsung (pawon), pengunjung boleh bebas makan di seluruh bagian rumah, bahkan di dapur sekalipun)
  • Gudeg Bromo (Bu Thekluk), Jl. Affandi, depan Visitel Yogyakarta
  • Gudeg Sagem, utara SMU N 1 Yogyakarta
  • Gudeg Batas Kota, Jl. Urip Sumoharjo (dekat XXI)
  • Gudeg Tugu, Jl. Sultan Agung (barat Tugu)
yahoo.com

Pertunjukan Ramayana Ballet – Purawisata Yogyakarta



Peraih Penghargaan MURI, Ramayana Ballet menyajikan pertunjukan legendaris yang spektakuler, dirampilkan setiap malam sejak tahun 1976 dengan konsep yang menakjubkan, kostum yang mempesona, dikombinasikan dengan budaya tradisional dan kontemporer, semua dalam satu panggung terbuka yang megah, yaitu di Purawisata Yogyakarta. Terdapat 500 kursi di udara terbuka yang siap memberikan kenyamanan untuk hiburan kelas dunia dan diakui dunia internasional yang dipertunjukkan pada malam hari. Dipadukan dengan pintu masuk yang dramatis dan pemandangan eksotis.

Pertunjukan Ramayana Ballet, Teater Terbuka dilaksanakan setiap malam, mulai pukul 20.00 – 21.30. Pemenang Guinness Book Of Indonesia Record (MURI) 2001 untuk pertunjukan Ramayana Ballet terbaik di Yogyakarta telah melakukan pertunjukan setiap malam selama 29 tahun terus-menerus.

Pertunjukan Ramayana Ballet menjadi daya tarik yang terkenal bagi dunia wisata Yogyakarta. Pertunjukan ini bercerita tentang kisah cinta Rama dan Shinta melawan Rahwana, dikisahkan pula tentang loyalitas dan kepahlawanan Hanoman.

Ada juga paket untuk Pertunjukan Ballet termasuk makan malam istimewa, menggabungkan antara suasana taman yang indah dan hangat dengan arsitektur Jawa yang megah dan mewah. Alunan musik gamelan dan tarian Jawa akan mengiringi selama waktu makan malam.

* Ramayana Ballet akan dilakukan dalam ruangan Graha Budaya Adi jika musim hujan.



GALERI FOTO
  • Ramayana Ballet
  • Ramayana Ballet
  • Ramayana Ballet
  • Ramayana Ballet
  • Ramayana Ballet
  • Ramayana Ballet
  • Ramayana Ballet
  • Ramayana Ballet
  • Ramayana Ballet
  • Ramayana Ballet
  • Ramayana Ballet
  • Ramayana Ballet
  • Ramayana Ballet
  • Ramayana Ballet
  • Ramayana Ballet
Gudegnet.com